Selasa, 06 Oktober 2009
TIPE MAKNA
Tipe makna adalah kajian makna berdasarkan tipenya. Tipe adalah pengelompokkan sesuatu berdasarkan kesamaan objek, kesamaan ciri atau sifat yang dimiliki benda, hal, peristiwa atau aktivitas lainnya. Leech membagi tipe makna menjadi tiga bagian besar. Yaitu:
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan di luar bahasa. Makna asosiatif ini sesungguhnya sama dengan perlambang-perlambang yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan makna ‘suci’ atau ‘kesucian’. Jadi, dapat dikatakan bahwa kata melati digunakan sebagai perlambang ‘kesucian’. Karena asosiasi ini berhubungan dengan nilai-nilai moral dan pandangan hidup yang berlaku dalam suatu masyarakat bahasa yang berarti juga berurusan dengan nilai rasa bahasa. Kemudian yang termasuk dalam makna asosiatif adalah makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, makna refleksi, dan makna kolokatif.
Makna konotatif yaitu makna yang muncul dibalik makna kognitif atau muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap kata yang didengar atau yang dibaca. Makna konotatif merupakan makna leksikal + X. Dengan kata lain makna konotatif adalah bukan makna sebenarnya. Misalnya kata amplop. Kata amplop bermakna sampul yang berfungsi sebagai tempat mengisi surat yang akan disampaikan kepada orang lain, kantor, instansi atau jawatan lain. Makna ini adalah makna denotasinya atau makna sebenarnya. Tetapi pada kalimat “Berilah ia amplop agar urusannmu segera selesai,” maka kata amplop sudah bermakna konotatif, yakni berilah ia uang. Kata amplop dan uang masih ada hubungan, karena uang dapat diisi di dalam amplop. Dengan kata lain, kata amplop mengacu kepada uang, dan lebih khusus lagi uang pelancar, uang pelican, uang semir, uang gosok.
Di sini terdapat fakta bahwa makna kata amplop tidak sebagaimana adanya lagi, tetapi mengandung makna lain, yang kadang-kadang masih berhubungan dengan sifat, rasa, benda, peristiwa yang dimaksudkan. Dengan kata lain, maknanya bergeser dari makna yang sebenarnya. Dengan demikian makna konotatif lebih berhubungan dengan nilai rasa pemakai bahasa.
Istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Jadi stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.
Makna stilistika adalah makna yang melibatkan situasi sosial atau makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Makna stilistika berhubungan dengan pemakain bahasa yang menimbulkan efek, terutama kepada pembaca. Itu sebabnya makna stilistika lebih dirasakan di dalam karya sastra. Sebuah karya sastra akan mendapat tempat tersendiri di dalam diri kita karena kata-kata yang digunakan mengandung makna stilistika bagi kita. Ada efek yang ditimbulkan dalam pemakaian kata dan gabungannya.
Efek tersebut lebih banyak berhubungan dengan emosi, dengan perasaaan. Orang terharu karena digunakan kata yang menimbulkan efek terharu. Makna stilistika lebih banyak terlihat dalam hasil karya sastra, karena memakai gaya bahasa. Kata-kata yang digunakan sedemikian rupa sehingga pembaca tergerak perasaan pembaca. Makna stilitika diterapkan oleh penulis melewati kata-kata yang digunakannya. Makna stilistika biasanya dihubungkan dengan kata-kata yang digunakan dalam hasil karya sastra. Itu sebabnya makna stilistika lebih banyak digunakan melewati gaya bahasa. Sebenarnya kata yang digunakan oleh para sastrawan adalah kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa, namun penempatannya diatur sedemikian rupa sehingga pembaca tertarik membaca hasil karya sastra tersebut. Gaya bahasa yang digunakan secara tepat akan menimbulkan rasa tertarik pada pembaca untuk membaca hasil karya sastra tersebut. Berikut contoh kutipan potongan roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijk (Hamka, 1977:16). “ Ketika itu engkau masih amat kecil, katanya memulai hikayatnya, engkau masih merangkak-rangkak di lantai dan saya duduk di kalang hulu ibumu memasukkan obat ke dalam mulutnya. Nafasnya sesak turun naik, dan hatinnya rupanya sangat dukacita akan meninggalkan dunia fana ini. Ayahmu menangkupkan kepalanya ke bantal dekat tempat tidur ibumu. Saya sendiri berurai air mata, memikirkan bahwa engkau masih sangat kecil belum pantas menerima cobaan yang seberat itu, umurmu baru 9 bulan”.
…………………………………………………………………………………..
Membaca potongan roman ini terdapat kesan mengenai cara Hamka merangkai kata yang menimbulkan makna stilistika. Hati akan iba, terharu, padahal kata-kata yang digunakan oleh Hamka adalah kata yang biasa-biasa saja. Kita berhadapan dengan makna stilistika. Makna stilistika yang diwujudkan melalui penerapan gaya bahasa. Ada baiknya ditambahkan bahwa gaya bahasa Hamka berbeda dengan gaya bahasa penulis mana pun di dunia ini.
stilistika ialah sutu cara yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan idenya dengan bahasa yang indah sebagai medianya.
Gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa: ragam lisan dan ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra, karena gaya bahasa ialah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu dan untuk maksud tertentu (Sobur, 2004:82). Maksud dari pernyataan itu ialah segala ragam bahasa pasti didalamnya tedapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan cakupannya gaya bahasa memliki bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat, mjas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalamsebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). pilihan kata atau diksi bukan hanya suatu kata-kata yang digunakan pengarang untuk menyatakan gagasannya, tetapi di dalam itu semua lebih menyangkut pada fraseologi, gaya bahasa yang digunakan serta ungkapan. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa diksi atau plihan kata sesungguhnya sangat menentukan dalam penyampaian makna (Sudjiman, 1993:22). Maksudnya keterkaitan antara makna dan pilihan kata atau diksi sangat erat. Jika plihan kata yang digunakn tidak tepat maka makna yang ingin disampaikan akan sulit diterima karena adanya salah persepsi antara bacaan dan pembacanya.
stilistika adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika itu sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada umumnya. Namun, seperti dikemukakan oleh Turner (1977:7), bagaimanapun stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam kesusastraan (bdk. Junus, 1989:xvii).
Telah dikatakan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa (style). Dari definisi tersebut kemudian muncul pertanyaan: apakah gaya bahasa? Gaya bahasa adalah (1) pemanfaatan kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu; (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49--50; Mas, 1990:13--14).
stilistika adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika itu sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada umumnya. Namun, perlu diingat bahwa karya sastra merupakan kesatuan wacana yang memuat seluruh gagasan atau ide pengarangnya. Selain itu, karya sastra juga memiliki gaya bahasa yang umumnya mencerminkan totalitas karya, tidak hanya sekedar bagian-bagian dari aspek bahasa. Dengan demikian, analisis stilistika secara umum dilakukan sebagai upaya untuk menggali totalitas makna karya sastra dan analisis secara khusus yang mencoba melihat gaya bahasa bagian perbagian.
Telah diungkapkan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa (style). Dari definisi tersebut kemudian muncul pertanyaan: apakah gaya bahasa? Gaya bahasa ialah (1) pemanfaatan kekayaan bahasa oleh seorang penutur dalam bertutur atau menulis, (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu pula, dan (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50; Mas, 1990:13-14; Suwondo, 2003:151-152). Dalam buku On Defining Style, Enkvist (Junus, 1989:4), menyatakan bahwa gaya adalah (1) bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada sebelumnya; (2) pilihan antara berbagai-bagai pernyataan yang mungkin; (3) sekumpulan ciri pribadi; (4) penyimpangan norma atau kaidah; (5) sekumpulan ciri kolektif; dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada kalimat.
Dengan demikian, stilistika adalah ‘jembatan’ yang memanfaatkan aspek-aspek linguistik (di satu pihak) untuk mengkaji atau melakukan kritik terhadap karya sastra (di pihak lain). Hubungan itu tercipta karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan oreintasi linguistik. Stilistika mengkaji cara sastrawan dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang ditimbulkan oleh penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri yang membedakannya dengan wacana nonsastra, dan meneliti deviasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Dengan kata lain, stilistika meneliti fungsi puitik bahasa (Sudjiman, 1993:3; Suwondo, 2003:152).
Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakupi diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan, pola rima dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). Selain itu, aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam studi stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat (Pradopo dalam Suwondo, 2003:152).
Dalam studi stilistika, kemungkinan cara pendekatan yang dapat digunakan ada dua macam, yaitu (1) menganalisis sistem linguistik karya sastra yang dilanjutkan dengan interpretasi ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya sastra sebagai makna total, dan (2) mengamati deviasi dan distorsi terhadap pemakaian bahasa yang normal (dengan metode kontras) dan berusaha menemukan tujuan estetisnya (Wellek dan Warren, 1990:226).
Daftar pustaka
Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Pateda, Manseer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta.
Fatimah. Djajasudarma. T. 1999. Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna. Bandung : Refika Aditama.
http://usupress.usu.ac.id/files/Stilistika%20Sastra%20Indonesia;%20Kaji%20Bahasa%20Karya%20Sastra_Final_Normal_bab%201.pdf
Sabtu, 03 Oktober 2009
catatan semantik
Contoh pada kata-kata seperti dan, atau, dan karena.
2. Makna Konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.
Contoh :
• kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.
• Kata rumah memiliki makna konseptual ‘bangunan tempat tinggal manusia’.
• Kata buaya memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang reptil buas yang memakan binatang apa sajatermasuk bangkai’.
3. Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Makna asosiatif merupakan asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika mendengar kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi unsur-unsur psikis, pengetahuan dan pengalaman seseorang.
Contoh:
• Kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
• Kata merah berasosiasi dengan berani atau juga ‘paham komunis’.
• Kata buaya berasosiasi dengan ‘jahat’ atau ‘kejahatan’.
4. Makna Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya. Baik secara leksikal maupun gramatikal.
Contoh:
• Hari ini koruptor itu akan di bawa ke meja hijau(pengadilan).
• Pak Amin membanting tulang(bekerja keras) demi mencukupi kehidupan rumah tangganya.
• Laki-laki tua itu menjadi kambing hitam(orang yang dipersalahkan) dalam persoalan perusahaannya.
5. Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa di sini dapat berupa kata, frase, maupun kalimat; dan relasi semantic itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan makna, ketercakupan makna, kegandaan makna, atau juga kelebihan makna.
Homonimi adalah ‘relasi makna antarkata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi maknanya berbeda’. Kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf, sedangkan yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofon. Contoh homograf adalah kata tahu (makanan) yang berhomografi dengan kata tahu (paham) dan buku (kitab) yang berhomografi dengan buku (tempat pertemuan dua ruas), sedangkan kata masa (waktu) berhomofono dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu kesatuan).
Polisemi adalah sebuah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh:
• Kepalanya (bagian tubuh manusia) berdarah karena terbentur dinding.
• Kepala kantor (ketua atau pimpinan) itu sangat tegas kepada anak buahnya.
• Kepala surat ( sesuatu yang berada di sebelah atas) biasanya berisi nama dan alamat kantor.
Sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Contoh:
• Kata betul bersinonim dengan kata benar.
• Kata diabetes bersinonim dengan kata kencing manis.
• Kata bini bersinonim dengan kata istri.
Antonimi adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanyamenyatakan kebalikan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Contoh:
• Kata cantik berantonim dengan kata jelek.
• Kata baik berantonim dengan kata buruk.
• Kata mati berantonim dengan kata hidup.
Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Conoh:
Burung
Merpati terkukur perkutut cendrawasih cucakrawa kepondang
Meronimi adalah ‘relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hiponim karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun menyiratkan pelibatan searah, tetapi merupakan relasi makna bagian dengan keseluruhan’. Contohnya adalah atap bermeronimi dengan rumah.
Makna Asosiatif adalah asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika mendengar kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi unsur-unsur psikis, pengetahuan, dan pengalaman seseorang. Contoh makna denotatif vila adalah rumah peristirahatan di luar kota. Selain itu, bagi kebanyakan orang Indonesia vila juga mengandung makna asosiatif ’gunung’, ‘alam’, pedesaan’, ‘sungai’, bergantung pada pengalaman seseorang.
Makna Afektif adalah sesuatu yang berkaitan dengan perasan seseorang jika mendengar atau membaca kata tertentu. Perasaan yang muncul dapat positif atau negatif. Contoh makna afektif yang positif yaitu kata jujur, dermawan, bijaksana, adil. Sedangkan contoh makna afektif negatif yaitu korupsi, kolusi.
Makna Situatif adalah kata-kata yang memiliki fungsi deiktis – seperti pronominal persona (saya, kamu, anda), pronominal penunjuk (ini, itu), nomina yang merupakan keterangan waktu (lusa, besok, minggu depan), dan keterangan tempat (di sini, di sana, di dalam).
Makna Etimologis adalah sesuatu yang berkaitan dengan asal-usul kata dan perubahan makna kata dilihat dari aspek sejarah kata. Makna etimologis suatu kata mencerminkan perubahan yang terjadi dengan kata tertentu. Perubahan makna dapat menyempit atau meluas. Sebagai contoh, kata sarjana yang dalam bahasa sanskerta bermakna ‘orang-orang yang cakap, cerdik cendikia’, kini maknanya menyempit menjadi ‘gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi.
Rabu, 03 Juni 2009
yang membedakan gender dan sex(jenis kelamin)
GENDER: untuk sifat dan pekerjaan bisa dipertukarkan,berbeda di tempat, non kodrati, dan dibentuk oleh masyarakat (konsumsi sosial).
Sabtu, 09 Mei 2009
curahan hati kedua
padahal belum tentu dia mengerti akan cintaku...
owh debu suci kau dapat melekat dan terbang setiap ada angin yang menghampirimu....
hingga kau selalu dapat bersinggah dimana saja yang kau inginkan...
dan kau tidak pernah takut kemana kau akan melekat....
Curahan Hatiii
seperti angin yang tak dapat kusentuh...
seperti bintang di angkasa yang tak dapat kuraih...
seperti itu juga ku tak dapat gapai cinta yang ada dalam hatimu...
jauh...
di balik tirai kebimbangan ku mencoba sadar dari mimpi dan anganku...!!
Rabu, 23 Juli 2008
Filsafat Umum
Tugas 4:
1. Tuliskan teori dan pemikiran Aristoteles tentang Etika dan Negara??
Jawab :
Aristoteles mempunyai perhatian khusus terhadap masalah etika. Karena etika bukan diperuntukkan sebagai cita-cita, akan tetapi dipakai sebagai hukum kesusilaan. Menurut pendapatnya, tujuan tertinggi hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan adalah suatu keadaan di mana segala sesuatu yang termasuk dalam keadaan bahagia telah berada dalam diri manusia. Jadi, bukan sebagai kebahagiaan subjektif. Kebahagiaan harus sebagai suatu aktivitas yang nyata, dan dengan perbuatannya itu dirinya semakin disempurnakan. Kebahagiaan manusia yang tertinggi adalah berpikir murni.
Menurut Aristoteles, Negara akan damai apabila rakyatnya juga damai. Negara yang paling baik adalah Negara dengan sistem demokrasi moderat, artinya sistem demokrasi yang berdasarkan Undang-Undang Dasar.
2. Carilah informasi tentang Filsafat Skolastik melalui 5 tokoh dan pendapatnya?
Jawab :
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat beberapa pengertian tentang filasafat skolastik diantaranya sebagai berikut:
a. Filasafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama.
b. Filasafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik dan buruk.
c. Filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
d. Filasafat skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor yaitu faktor religius dan faktor ilmu pengetahuan.
1) Peter Abaelardus (1079-1180)
Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada di luar iman. Karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metode dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian, dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.
2) Albertus Magnus (1203-1280)
Di samping sebagai biarawan, Albertus Magnus juga dikenal sebagai cendikiawan abad pertengahan,. Ia lahir dengan nama Albert von Bollstadt yang juga dikenal sebagai “doktor universalis” dan “doktor magnus”. Ia mempunyai kepandaian luar biasa. Di universitas
Terakhir ia di angkat sebagai uskup agung. Pola pemikirannya meniru Ibnu Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilmu kimia.
3) Thomas Aquinas (1225-1274)
Menurut Aquinas, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pemikiran. Ia mengimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yang terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara ketuhanan walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikir.
Aquinas telah menafsirkan pandangan bahwa Tuhan sebagai Tukang Boyong yang tidak pernah berubah dan yang tidak berhubungan dengan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah mencipta dunia, tetapi zat dan pemikirannya tetap abadi.
Selanjutnya ia katakana bahwa iman lebih tinggi dan berada di luar pemikiran yang berkenaan sifat Tuhan dan alam semesta. Timbulnya pokok persoalan yang aktual dan praktis dari gagasannya adalah “pemikirannya dan kepercayaannya telah menemukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh orang-orang lain”. Pandanganya inilah yang menjadikan perlawanan kaum Protestan karena sikapnya yang otoriter.
4) William Ockham (1285-1349)
Ia merupakan ahli pikir Inggris yang beraliran skolastik dan ia menolak ajaran Thomas dan mendalilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yang umum itu hanya tanda-tanda abstrak.
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yang demikian ini, dapat dilalui hanya lewat intuisi, bukan lewat logika. Di samping itu, ia membantah anggapan skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII.
5) Nicolas Cusasus (1401-1464)
Ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat indra, akal, dan intuisi. Dengan indra kita akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad, yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indra. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita akan dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatuka. Manusia seharusnya menyadari akan keterbatasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat diketahui. Karena keterbatasan akal tersebut, hanya sedikit saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akan sampai pada kenyataan, yaitu suatu tempat dimana segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan.
3. Tokoh filosofi dari zaman Renaissance antara lain Leonardo da Vinci, Machiavelli, Michelangelo, dan Giordano Bruno. Apa yang anda ketahui tentang mereka? Jelaskan!!!
Jawab :
Renaissance atau kelahiran kembali di Eropa merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di Italia, kemudian di Prancis, Spanyol, dan selanjutnya hingga menyebar keseluruh Eropa. Dan dibawah ini merupakan tokoh-tokoh filosofi dari zaman Renaissance.
A.
Leonardo da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna.Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan juga kuliner.
B. Michaelangelo Buonarroti' atau nama lengkapnya dalam bahasa Italia Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (dalam bahasa Spanyol disebut Miguel Ángel; dalam bahasa Perancis disebut Michel-Ange, yang kurang lebih berarti Malaikat Mikail) (6 Maret, 1475 - 18 Februari, 1564) adalah seorang pelukis, pemahat, pujangga, dan arsitek zaman Renaissance. Ia terkenal untuk sumbangan studi anatomi di dalam Seni Rupa. Karyanya yang dianggap terbaik adalah Patung David, Pietà, dan Fresko di langit-langit Sistine's Chapel.
C. Niccolo Machiavelli
Niccolò Machiavelli (3 Mei 1469 – 21 Juni 1527) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans. Dua bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Pangeran), awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum dalam berpolitik di masa itu.
Il Principe, atau Sang Pangeran menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.
Nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, untuk menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis.
D. Western Philosophy
Giordano Bruno (1548, Nola – February 17, 1600, Rome) was an Italian philosopher, priest, cosmologist, and occultist. Bruno is known for his use and development of the art of memory, a mnemonic system based upon organized knowledge. He was also an early proponent of the idea of an infinite and homogeneous universe. Burnt at the stake as a heretic by the Roman Inquisition, Bruno is seen by some as the first "martyr [1] for science."
Senin, 21 Juli 2008
Filsafat Umum
1. Tugas Filsafat Umum: Mencari sumber lain yang memberi makna tentang "philos", "sophos", “philein", dan "sophia" serta manfaat belajar filsafat.
Kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Menurut Imam Bernadib menganggap bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philosophos. Kata ini terambil dari kata philos dan sophia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophia atau sophos berarti kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah. Seseorang dapat disebut telah berfilsafat menurut Bernadib, apabila seluruh ucapan dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, cinta terhadap pengetahuan dan cinta terhadap hikmah.
Menurut Harun Nasution, falsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata, yakni philein dalam arti cinta dan sophos dalam arti hikmat (wisdom).
Manfaat belajar filsafat bagi seorang akademisi adalah kita dapat mengerti tentang apa arti filsafat dan dapat dimanfaatkan untuk bagaimana cara berfikir secara rasional serta dapat mempertimbangkan bagaimana mengambil keputusan secara lebih hati-hati untuk mencari solusi dari suatu masalah yang dihadapi.
2. Tugas Filsafat Umum: 5 filsuf terkemuka yunani serta buah pikirannya.
1.Plato (bahasa Yunani Πλάτων) (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah filsuf Yunani yang sangat berpengaruh, murid Socrates dan guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") di mana ia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.
Sumbangsih Plato yang terpenting tentu saja adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran". Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua. Ada yang berpendapat bahwa Plato adalah filsuf terbesar dalam sejarah manusia. Semua karya falsafi yang ditulis setelah Plato, hanya merupakan "catatan kaki" karya-karyanya saja.
2. Aristoteles
Aristoteles (384-322) berasal dari Stegeira di daerah Tharke, Yunani Utara. Ia belajar di sekolah filsafat yang didirikan Plato dan tinggal di Akademia hingga Plato meninggal dunia. Dua tahun kemudian Aristoteles diangkat sebagai guru pribadi Alexander Agung, barulah setelah Alexander Agung dilantik sebagai raja ia mendirikan sekolah yang dinamakannya Lykeion. Sebagaimana Plato yang sangat mengagumi gurunya, Aristoteles pun sangat mengagumi Plato sebagai pemikir dan sastrawan meskipun dalam filsafatnya Aristoteles menempuh jalan sendiri. Aristotels mengatakan bahwa Plato adalah sahabatnya, tetapi kebenaran lebih akrab dengannya (Bartness.1979:14).
Minat-minat Aristoteles terentang meliputi bidang alamiah dan manusia, termasuk didalamnya etika dan metafisika. Ia merupakan filsuf terkemuka dan terbesar. Asumsi ini dibuktikan berabad-abad melampaui zamannya, sehingga tulisan-tulisannya merupakan basis filsafat alamiah hingga abad ke-17, meskipun tetap terhindarkan adanya kesalah pahaman dan tulisannya pernah digunakan untuk menyusun dogma yang steril. Perbedaan pandangan antara dirinya dan Plato diawali oleh soal-soal mendasar (Jerome R. Rafertsz.2007:12-13).
Aristoteles menyatakan kritik yang sangat tajam terhadap pandangan Plato mengenai konsep Idea-idea. Ia bahkan menawarkan konsep baru yang dikemudian hari dinamakan hilemorfisme sebagai alternative bagi ajaran Plato mengenai Idea-idea (Bartness.1979: 15). Sekalipun demikian tidak dapat disangsikan Aristoteles tetap berutang budi kepada Plato karena dialah yang pertama kali mengungkap tentang idea-idea.
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut, dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).
3. Socrates
Socrates adalah anak seorang pemahat Sophroniscos, dan ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjaannya seorang bidan. Istrinya bernama Xantipe yang dikenal sebagai seorang yang judes. Ia berasal dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian menjadi prajurit Athena. Ia terkenal sebagai prajurit yang gagah berani. karena ia tidak suka terhadap urusan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat, yang akhirnya ia dalam keadaan miskin.
Seperti halnya kaum Sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. berbeda dengan kaum Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada murid-muridnya. Maka, ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis oleh Plato dalam karangannya: Apologia.
Sejak muda Socrates telah terlihat sifat kebijaksanaannya, karena selain ia cerdas juga pada setiap perilakunya dituntun oleh suara batin yang selalu membisikkan dan menuntun ke arah keutamaan moral. Cara memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan dialog (tanya jawab), yang bertujuan untuk mengupas kebenaran semu yang selalu menyelimuti para muridnya. Kebenaran semu tersebut muncul karena ketidaktahuan para muridnya tentang hal-hal tertentu. Dengan cara dialog pengetahuan semu akan terdobrak sehingga mampu keluar dan melahirkan pengetahuan yang sejati.
Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semu itu meniru pekerjaannya ibunya sebagai seorang bidan dalam upaya menolong kelahiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Teknik dalam upaya menolong kelahiran bayi pengetahuan itu disebut majeutike (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat-amati hal-hal yang konkret dan yang beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur-unsur yang berbeda dihilangkan sehingga tinggallah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan ssejati.
Pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barangsiapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.
Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
4. Rene Descartes (La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650), juga dikenal sebagai Cartesius, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.
Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.
Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:
- "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am)
Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern.
5. Pythagoras
· Suatu ajaran rahasia dengan suatu kepercayaan, bahwa jiwa tidak dapat mati
· Usaha mempelajari ilmu pasti
Pertama-tama diajarkan bahwa jiwa adalah sesuatu yang berdiri sendiri, yang tidak berjasad serta tidak dapat mati. Oleh karena hukumanlah maka jiwa dibelenggu di dalam tubuh. Dengan penyucian (catharsis) orang dapat membebaskan jiwanya dari belenggu tubuhnya, sehingga setelah orang mati jiwanya akan mendapatkan kebahagiaan. Akan tetapi barang siapa tidak menyucikan diri atau penyuciannya kurang, jiwanya akan berpindah ke kehidupan yang lain, sesuai dengan keadaannya, baik berpindah ke binatang, tumbuh-tumbuhan, atau manusia. Penyucian diri terdiri dari melakukan pantangan-pantangan terhadap makanan tertentu. Seperti: daging, kacang, dll.
